
Source: https://unsplash.com
Sering Merasa Iri Saat Buka Media Sosial? Bisa Jadi Kamu Terjebak Comparison Trap
Pernah nggak sih, niatnya cuma buka media sosial bentar sebelum tidur, tapi 30 menit kemudian kamu malah questioning your entire life? Kamu melihat berbagai macam life updates dari orang-orang di sekitar kamu. Terus kamu lihat layar HP sambil mikir, “Gue kapan ya?” Suddenly, everyone seems to be moving forward except you. Padahal sebelum scrolling, kamu masih merasa baik-baik aja. Welcome to the comparison trap.
Di era media sosial, kita nggak cuma lihat sebagian kecil cerita dari orang lain, tapi juga ngeliat update mereka setiap hari. Mulai dari pencapaian, career update, sampai berbagai milestone yang mereka bagikan di internet, semuanya bisa muncul dalam satu kali scroll. Tanpa sadar, apa yang kita lihat di layar mulai terasa seperti standar yang harus kita kejar, sampai akhirnya progres orang lain terasa seperti deadline buat hidup kita sendiri.
Sounds familiar? Ternyata, rasa “kok semua orang udah jauh banget?” itu nggak muncul begitu aja. Ada beberapa hal yang bikin kita tanpa sadar terus membandingkan perjalanan diri sendiri dengan apa yang kita lihat di media sosial. Yuk, kita bahas satu per satu.
1. Suddenly, Everyone is Winning

Ketika kamu buka LinkedIn, hal pertama yang kamu lihat adalah seseorang yang baru mulai internship di perusahaan terkenal. Scroll lagi, ada yang baru announce pekerjaan barunya, ada yang upload sertifikat, lalu ada juga yang baru berangkat exchange ke luar negeri.
Somehow dalam waktu singkat, hal itu bikin kamu ngerasa hidup gini-gini aja. Padahal, sebelumnya kamu nggak sampai overthinking tentang itu semua.
This is the weird thing about social media. Kita bisa melihat puluhan pencapaian orang dalam waktu yang sangat singkat, sementara kita sendiri butuh waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun untuk mencapai sesuatu. Usaha yang kita jalani, tiba-tiba terasa seperti ketinggalan jauh ketika disandingkan dengan berbagai update yang muncul di layar.
Kita tahu kapan orang lain mulai internship, tapi nggak tahu berapa kali mereka gagal apply sebelumnya. Kita lihat orang upload achievement, tapi nggak lihat seberapa berat tantangan mereka sebelum sampai ke sana. Kita hanya dapat potongan-potongan terbaik dari perjalanan mereka, sementara seluruh proses, keraguan, dan kegagalan yang ada di baliknya sering kali nggak kita lihat.
That’s where comparison starts messing with our heads.
2. Why Social Media Makes Everyone Look Ahead

Coba pikirin lagi, berapa banyak orang yang upload, “Today I spent 8 hours questioning my career choices.” Kayaknya nggak banyak, ya? Sebaliknya, kabar seperti “Just landed my dream internship!”, foto wisuda, atau pencapaian baru lebih sering muncul di feed. Media sosial memberi kita kebebasan untuk memilih cerita mana yang ingin dibagikan dan bagaimana kita ingin terlihat di mata orang lain.
Pola ini juga terlihat dalam penelitian Sujibto dkk. (2025), yang mengkaji bagaimana mahasiswa Indonesia yang berprestasi dalam kompetisi akademik membagikan pencapaian di Instagram untuk membangun citra diri (self-branding) dan menginspirasi lingkungan sosialnya. Sementara itu, Chiu dan Yuan (2021), melalui penelitian terhadap 13 pengguna Instagram selama tujuh hari yang dilanjutkan dengan wawancara mendalam, menemukan bahwa unggahan permanen cenderung dikurasi untuk menampilkan citra diri ideal, sedangkan stories lebih sering digunakan untuk membagikan sisi yang kasual dan terasa lebih autentik.
Masalahnya, kita sering ngebandingin full version of ourselves dengan highlight version of someone else. Kita tahu semua kekurangan, keraguan, dan kegagalan diri sendiri, tapi kita cuma ngeliat pencapaian orang lain.
3. Your Timeline is Not a Group Project

There’s this unwritten timeline yang sering kita rasain saat memasuki usia 20-an: kuliah, internship, kerja, naik jabatan, punya side hustle, lalu pensiun. Rasanya kayak ada urutan yang harus kita ikutin and apparently, we’re supposed to complete all of that as soon as possible. Padahal, nggak ada aturan yang benar-benar menetapkan kapan setiap tahap itu harus terjadi.
Ketika lihat teman-teman udah internship, udah kerja, atau bahkan punya bisnis sendiri, we start asking ourselves, “Am I doing enough?”. Padahal hidup bukan group project di mana semua orang harus submit pada waktu yang sama.
Ada orang yang nemuin passion-nya di umur 19, ada yang baru tahu ingin ke mana setelah lulus, ada yang sejak awal udah punya career path yang jelas. Sementara yang lain butuh waktu lebih panjang untuk mencoba berbagai hal, sampai akhirnya nemuin sesuatu yang terasa cocok.
Progres juga nggak selalu datang dalam bentuk title, salary, atau jumlah achievement yang bisa kamu post. Bisa jadi progres kamu hari ini adalah mulai tahu apa yang sebenarnya nggak kamu inginkan, jadi lebih percaya diri dalam mengambil keputusan, mempelajari skill yang sebelumnya belum kamu pahami, atau tetap lanjut melangkah meskipun sesuatu nggak berjalan sesuai rencana.
Sometimes, progress simply means you’re still moving forward, even when your path looks different from everyone else’s.
4. When Inspiration Turns Into Pressure

Punya ambisi dan merasa termotivasi setelah melihat pencapaian orang lain sebenarnya bukan hal yang buruk. Kalau keberhasilan seseorang bikin kamu jadi pengen nyoba sesuatu yang baru, that’s good. Kalau skill yang mereka punya bikin kamu tertarik untuk belajar dan berkembang, even better.
Masalah mulai muncul ketika inspirasi perlahan berubah menjadi tekanan. Awalnya ada rasa kagum dan keinginan untuk bisa mencapai hal yang sama, tapi lama-lama perhatian kita justru beralih ke seberapa jauh orang lain sudah melangkah dibandingkan diri kita sendiri. Perasaan yang muncul justru rasa tertinggal dan pikiran bahwa apa yang sudah kita lakukan masih belum cukup.
That’s when comparison stops being useful. Pencapaian orang lain seharusnya bisa dijadikan referensi atau motivasi tanpa harus berubah menjadi standar untuk menilai diri sendiri. Kamu tetap bisa melihat dan mengapresiasi progres mereka tanpa menjadikannya sebagai alat ukur harga diri kamu sendiri.
Because someone else’s chapter 10 doesn’t make your chapter 3 a failure.
5. So… Should You Stop Scrolling?

Kamu nggak perlu sampai uninstall semua media sosial dan hidup di gunung cuma buat menghindari comparison trap. Relax. Kamu tetap bisa menikmati konten di media sosial sambil tetap aware akan bagaimana konten yang kamu konsumsi memengaruhi cara kamu melihat diri sendiri. Kalau setiap kali buka Instagram, TikTok, atau LinkedIn kamu malah ngerasa tertinggal, coba berhenti sebentar dan tanyain ke diri sendiri, “Aku lagi nyari inspirasi, atau lagi nyari alasan buat ngerasa nggak cukup?”
Ada beberapa hal sederhana yang bisa kamu coba untuk mengubah kebiasaan scrolling jadi lebih sehat:
- Mute akun yang bikin kamu terus membandingkan diri. Coba mute akun-akun yang sering bikin kamu masuk ke comparison spiral atau merasa tertinggal dari orang lain. Kamu berhak mengatur apa yang muncul di feed supaya media sosial tetap jadi ruang yang nyaman untuk belajar dan mencari inspirasi.
- Track your own progress. Mulai catat skill baru yang kamu pelajari, project yang berhasil kamu selesaikan, atau hal-hal kecil yang sudah kamu capai bulan ini. Dengan begitu, kamu punya kesempatan untuk melihat perkembangan diri sendiri tanpa harus terus mengukurnya lewat pencapaian orang lain.
- Take a scrolling break. Luangkan waktu untuk berhenti scrolling, terutama ketika kamu mulai merasa overwhelmed setelah melihat berbagai pencapaian orang lain. Sometimes, you just need some space to think, recharge, and focus on what matters to you.
Pada akhirnya, kamu tetap boleh mengagumi pencapaian orang lain dan menjadikannya motivasi untuk berkembang. Kamu bisa mengambil inspirasi dari progres mereka tanpa harus menjadikannya sebagai deadline untuk hidupmu sendiri. Coba untuk mengingat sejauh apa kamu sudah berkembang, mulai dari hal-hal yang sudah kamu lewati, usaha yang sudah kamu lakukan, sampai pengalaman yang membuatmu terus belajar.
Mungkin sekarang kamu belum punya internship impian, portofoliomu masih berantakan, atau kamu masih belum tahu career path yang ingin kamu pilih, and that’s okay. Kamu nggak harus punya semua jawaban sekarang. Wajar kalau sesekali merasa bingung, ragu, atau bahkan sedikit tertinggal. Kamu mungkin belum sampai di tempat yang kamu inginkan, tapi bukan berarti kamu nggak sedang bergerak ke sana.
Maybe you’ve just been looking sideways for too long. Kasih dirimu waktu untuk berkembang, mulai dari hal-hal kecil, dan ingat bahwa your life is not late just because someone else’s life looks early. Keep showing up for yourself, one step at a time.
Kalau kamu juga sedang menjalani perjalanan untuk mengenal diri sendiri, mengembangkan skill, dan mempersiapkan karier, bisa cek Instagram dan TikTok @hubtonignite & @hubtonignite. Kita juga sering berbagi tips seputar perkuliahan, internship, pengembangan skill, sampai insight dunia kerja yang bisa ngebantu kamu mempersiapkan langkah berikutnya. Yuk, belajar dan berkembang bareng supaya kita bisa jadi #ReadyDuluan! 🚀




